Arabiyy

Tegakkanlah Agama Dan Janganlah Kamu Berpecah Belah

Kekafiran Jahmiyyah

Jahmiyyah Termasuk 72 golongan yang sesat. Ada yang mengatakan bhw aliran jahmiyyah bukan sekadar sesat, tetapi terkeluar dari islam yakni kafir. ‘Abdul Qadir al-Jaylani berkata, Adapun Jahmiyyah, maka ia dinisbahkan pada Jahm bin Safwaan. Jahmiyyah menafikan Nama-nama Allah dan Sifat2 Allah. Jahm berkata :
1. Iman adalah hanyalah ma’rifah (mengenal) Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang dari sisinya. Ini adalah fahaman Jahmiyyah dalam masalah iman yang kemudian dipopulerkan oleh ghulatul-Murji’ah. Mereka tidak memasukkan perkataan dan perbuatan dalam cakupan iman. Oleh karena itu, iman tidak akan hilang (dan bahkan tetap dalam kesempurnannya) walau dikotori oleh kekufuran dalam perkataan dan amal perbuatan. Mereka tidak mengenal bertambah dan/atau berkurangnya iman.
Ahlus-Sunnah telah ijma’ bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan; bisa naik dengan ketaatan, dan turun (bahkan hilang sama sekali) dengan kemaksiatan.
عن عبد الرزاق، قال : سمعتُ معمراً وسفيان الثوري ومالك بن أنس وابن چريج وسفيان بن عيينة يقولون : الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص.
Dari ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Aku mendengar Ma’mar, Sufyaan Ats-Tsauriy, Maalik bin Anas, Ibnu Juraij, dan Sufyaan bin ‘Uyainah berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurri dalam Asy-Syarii’ah, 1/272, tahqiq : Al-Waliid bin Muhammad An-Nashr; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1417 – dengan sanad shahih].
عن الربيع بن سليمان قال : سمعتُ الشافعي رضي الله عنه يقول : الإيمان قول وعمل، ويزيد وينقص.
Dari Ar-Rabii’ bin Sulaimaan ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Manaaqibusy-Syaafi’iy, 1/385, tahqiq As-Sayyid Ahmad Shaqr; Maktabah Daar At-Turaats].
عن أبي داود، قال : سمعتُ أحمد بن حنبل يقول : الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص.
Dari Abu Daawud, ia berkata : Saya mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah, 1/272; shahih].

2. Al-Qur’an adalah makhluq[2];
3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung)[3];
4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (menafikkan sifat kalaam)[4];
5. Allah tidak dilihat di Akhirat[5];
6. Allah tidak mempunyai tempat tertentu[6];
7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy[7]; bukan di atas langit ke tujuh (7). Sedangkah menurut Ahl al-Sunnah, jawapan yang tepat bagi seseorang Muslim yang apabila diajukan pertanyaan kepadanya tentang “di manakah Allah,” maka dia hendaklah menjawabnya sebagaimana zahir lafaz jawapan wanita dalam hadis Mu’awiyah al-Sulami, iaitu fis samaa’….”Allah di atas langit”.
8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat)[8];
9. Mengingkari azab qubur[9];
10. Syurga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana’ (tidak kekal).
11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya[11] dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat[12]; Ini adalah konsekuensi pengingkaran mereka terhadap sifat kalam sebagaimana telah lalu pembahasannya. Padahal telah tetap dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa Allah akan mengajak bicara orang-orang yang beriman kelak di hari kiamat.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلا النَّارَ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih” [QS. Al-Baqarah : 174].
Apabila ada segolongan kaum yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, maka mafhum-nya ada segolongan lain akan diajak bicara oleh Allah kelak di hari kiamat.
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?” [QS. Al-An’aam : 22].
ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?” Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu): “Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir” [QS. Al-Hijr : 27].
عن ‏ ‏عدي بن حاتم ‏ ‏قال : ‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم :‏ ‏ما منكم من أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان ولا حجاب يحجبه ))
Dari ‘Adiy bin Haatim ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah bersabda: “Tidaklah ada seorangpun di antara kalian kecuali ia akan diajak bicara oleh Rabb-nya. Tidak ada antara keduanya penterjemah dan penghalang yang menghalanginya” [Sahih Al-Bukhariy no. 6889].

12. Penduduk surga tidak akan melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihat-Nya di syurga[13]; Al-Imam Abul-Hasan al-Ash’ariy rahimahullah berkata :
أجمعوا على أن المؤمنين يرون الله عز وجل يوم القيامة بأعين وجوههم على ما أخبر به تعالى
“Mereka (para ulama sunnah) telah bersepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah ‘azza wa jalla kelak di hari kiamat dengan mata kepala mereka berdasarkan apa yang telah dikhabarkan Allah ta’ala” [Risaalah ilaa Ahlith-Thaghr, hal. 237 – melalui perantaraan kitab Shifatullaahi ‘azza wa jalla Al-Waaridatu fil-Kitaab was-Sunnah oleh ‘Alawiy bin ‘Abdil-Qaadir As-Saqqaaf, hal. 170; Ad-Durarus-Saniyyah, Cet. 3/1426].

13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb (mengenal dengan hati, percaya dengan hati) tanpa pengikraran dengan lisan[14]; Kalau begitu iblis, fiaruan dan abu jahl dan sekalian kuffar adalah beriman!
14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa”. Menurut jahmiyyah Allah tidak berwajah, tidak bertangan, tidak tinggi di atas Arasyh. Mereka menolak hadith jariyah yang sahih yang menyatakan Allah di atas langit (yang ke 7). Mrk mengkafirkan Ahl al-Sunnah. Ini adalah inti ‘aqidah Jahmiyyah yang mengingkari seluruh sifat Allah ta’ala. hakikatnya, mereka seperti menyembah ma’dum yakni sesuatu yang tidak ada (karena tidak mempunyai sifat). Maha Suci Allah dari yang mereka katakan.

Al-Imam Abu Hatim al-Razi rahimahullah:

“Tanda-tanda Jahmiyyah adalah mereka menggelar Ahli Sunnah sebagai Musyabbihah mujassimah (menyerupakan Allah dengan makhluk ). Tanda-tanda aliran al-Qadariyyah adalah mereka menggelar Ahli Sunnah sebagai berfahaman al-Jabariyyah. Tanda-tanda al-Murji’ah adalah mereka menggelarAhli Sunnah sebagai al-Mukalifah (suka menyimpang) dan al-Nuqsaniyyah (suka mengurangi). Tanda-tanda aliran al-Rafidhah adalah mereka menggelar Ahli Sunnah sebagai al-Tsaniyyah.” [Ashl al-Sunnah wa I’tiqad al-Din;

Sejalan dengan kenyataan ini ialah Imam al-Barbahari rahimahullah dimana beliau berkata:

“Jika anda mendengar seseorang berkata: “Si fulan adalah Musyabbih atau si fulan berbicara tentang masalah tasybih” maka ketahuilah bahawa dia seorang Jahmiyyah.” [Syarhus Sunnah]

Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah aliran yang sesat dan termasuk ahlul bid’ah, pengikut jahmiyyah , menerima Nama Allah dan nenolak sifat-sifatNYA. Mereka adalah pengikut Wasil bin ‘Atha’ dan ‘Amr bin ‘Ubaid. Digelar Mu’tazilah karena mereka mengeluarkan diri (‘itizal) dari kelompok kajian al-Hasan al-Bashri (wafat tahun 110 H) rahimahullah, atau karena mereka mengisolir diri dari pandangan sebagian besar ummat Islam ketika itu dalam hal pelaku dosa besar, karena menurut Washil bin ‘Atha’, pelaku dosa besar berada dalam status antara iman dan kafir, tidak dikatakan beriman dan tidak pula dikatakan kafir, atau disebut dengan istilah mereka: manzilah bainal manzilatain (tempat di antara dua kedudukan, tidak mukmin dan tidak kafir). Dan jika tidak bertaubat, maka ia di akhirat akan kekal dalam Neraka.[15]
Adapun menurut Ahlus Sunnah, pelaku dosa besar dari kaum Muslimin masih tetap disebut Mukmin karena imannya, hanya saja ia itu fasiq karena perbuatan dosa besarnya. Atau dikatakan ia itu Mukmin yang kurang imannya, sedang urusannya di akhirat -apabila belum bertaubat- adalah terserah Allah, jika Allah Azza wa Jalla menghendaki, akan disiksa-Nya (sesuai dengan keadilan-Nya) dan jika Dia menghendaki akan diampuni-Nya (sesuai dengan sifat kasih-Nya).[16]

dalam sifat istiwa’ Allah, ahlus Sunnah mengatakan bahawa Allah memang istiwa’ (maha tinggi) secara haqiqi di atas arasy. Inilah yang sahih
Mu’tazilah sesat mengatakan istiwa’ itu adalaah istila’ (menakluk). Ini batil. Adakah Allah tewas lalu menang dan menakluk arasy? Adakah Allah istila’ (menakluk) arasy shj?

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: