Arabiyy

Tegakkanlah Agama Dan Janganlah Kamu Berpecah Belah

Archive for the day “August 4, 2016”

Sifir Jahmiyyah Melayu

Lihat aqidah cicit jahmiyyah tegar,…

“…Allaah is not a jism, nor a jawhar, nor an ‘arad, he is not above, nor below, nor to the right, nor to the left, nor before, nor behind, He is not within the universe, nor outside of it. He is not direction, nor a place, nor in spatial occupation. He is not a form, or shape, or flesh, or bones, or blood. He does not have color, or taste, or smell, and nor hotness or coldness, or motion or rest, or combination or separation, or wetness or dryness. He does not have parts, and does not have a where, or a when….

Pandangan Shaykh Najiib al-Muti’ei tentang tajsim

The translation of which is (the saying of al-Banaaniyy):

Know that the Mujassimah are two groups: A group that believes Allaah is a jism (body) like all the other bodies, and there is no difference regarding their disbelief.

And a group believing that Allaah, the Most High, is a jism (body) but not like the (created) bodies, rather [with] a jism that befits Him. There is a difference regarding their kufr.

And the Mujassim [being spoken about], in the speech of the explainer, is from the second group.

Then Najeeb al-Mutee’i, follows this up, saying:

And our Shaykh has objected against his – (i.e. al-Banaaniyy’s) – affirmation of this [difference regarding the kufr of such a one] with his saying: It is said: There is no angle [for] his disbelief, because the origin of his saying returns back to [the saying] that He is not a jism (body), at all, meaning a body (jism) [but] not like created bodies. And hence, this is merely [an issue of] naming (tasmiyyah).

Tanda Jahmiyyah

Antara tanda seseorang itu diracuni fahaman sesat jahmiyyah ialah suka menamakan muslim muslimah sbg mushabbihah mujassimah, bodoh, mentah, menentang Nabi dan keluarga baginda.

al-Hafiz Abul Qaasim al-Asbahaani (rahimahullah) berkata:
فصل فِي الرد عَلَى الجهمية الَّذِين أنكروا صفات اللَّه عَزَّ وَجَلَّ وسموا أهل السنة مشبهة
“Fasal tentang Bantahan terhadap Jahmiyyah yang mengingkari sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan menamakan Ahlus-Sunnah sebagai Musyabbihah” [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah].
وإذا رأيت الرجل يسمي أهل الحديث حشوية، أو مشبهة، أو ناصبة فأعلم أنه مبتدع
“Apabila engkau melihat seseorang itu menamakan Ahlul-Hadiith sebagai Hasyawiyyah, Musyabbihah, atau Naasibah, maka ketahuilah bahawa ia seorang mubtadi’” [ahli bid’ah].
فهؤلاء أهل السنة والمتمسكون بالصواب والحق وليس هم بالمشبهة من شبهوا هؤلاء إِنما آمنوا بما جاء به الحديث، هؤلاء مؤمنون مصدقون بما جاء به النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ والكتاب والسنة .
“Mereka, iaitu Ahlus-Sunnah yang berpegang teguh kepada kebenaran dan al-haq, bukanlah Musyabbihah yang melakukan tasybiih. Mereka hanyalah beriman kepada kandungan hadits. Mereka beriman dan membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Al-Kitaab, dan As-Sunnah” .
al-Imam Qutaibah bin Sa’iid -rahimahullah- berkata:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ: الْمشبهة فَاحْذَرُوهُ، فَإِنَّهُ يَرَى رَأْيَ جَهْمٍ
“Apabila seseorang berkata (kepada Ahlus-Sunnah) : ‘Musyabbihah’, maka waspadalah, kerana ia menganut pendapat Jahm (Jahmiyyah)” [Diriwayatkan oleh Abu Ahmad al-Haakim dalam Syi’aar Ashhaabil-Hadiits no. 12 dan Ibnu ‘Asaakir dalam Jam’ul-Juyuush, no. 85].

Tidak sahih.

Salam, benarkah nukilan di bawah ini? Apakah takrif mujassimah sebenar?
قال الإمام الشافعي :من اعتقد أن الله جالس على العرش فهو كافر” (رواه ابن المعلم القرشي في كتابه نجم المهتدي ورجم المعتدي ص: 551).نقل ذلك عنه القاضى حسين الذى كان يسمى حبر الأمة لسعة علمه
قال الإمام أحمد بن حنبل : “من قال الله جسم لا كالأجسام كفر” (رواه الحافظ بدر الدين الزركشي في كتابه تشنيف المسامع
ال الإمام الشافعي رضي الله عنه: “المجسم كافر” (رواه الحافظ السيوطي في كتابه الأشباه والنظائر ص: 488

Jawapan:
Ini batil, tidak sahih, tidak mempunyai sanad. Mujassimah sebenar ialah spt yahudi yang mengatakan Allah menangis, menggigit tanganNYa, menyesal dan berdarah.

Kekafiran Jahmiyyah

Jahmiyyah Termasuk 72 golongan yang sesat. Ada yang mengatakan bhw aliran jahmiyyah bukan sekadar sesat, tetapi terkeluar dari islam yakni kafir. ‘Abdul Qadir al-Jaylani berkata, Adapun Jahmiyyah, maka ia dinisbahkan pada Jahm bin Safwaan. Jahmiyyah menafikan Nama-nama Allah dan Sifat2 Allah. Jahm berkata :
1. Iman adalah hanyalah ma’rifah (mengenal) Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang dari sisinya. Ini adalah fahaman Jahmiyyah dalam masalah iman yang kemudian dipopulerkan oleh ghulatul-Murji’ah. Mereka tidak memasukkan perkataan dan perbuatan dalam cakupan iman. Oleh karena itu, iman tidak akan hilang (dan bahkan tetap dalam kesempurnannya) walau dikotori oleh kekufuran dalam perkataan dan amal perbuatan. Mereka tidak mengenal bertambah dan/atau berkurangnya iman.
Ahlus-Sunnah telah ijma’ bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan; bisa naik dengan ketaatan, dan turun (bahkan hilang sama sekali) dengan kemaksiatan.
عن عبد الرزاق، قال : سمعتُ معمراً وسفيان الثوري ومالك بن أنس وابن چريج وسفيان بن عيينة يقولون : الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص.
Dari ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Aku mendengar Ma’mar, Sufyaan Ats-Tsauriy, Maalik bin Anas, Ibnu Juraij, dan Sufyaan bin ‘Uyainah berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurri dalam Asy-Syarii’ah, 1/272, tahqiq : Al-Waliid bin Muhammad An-Nashr; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1417 – dengan sanad shahih].
عن الربيع بن سليمان قال : سمعتُ الشافعي رضي الله عنه يقول : الإيمان قول وعمل، ويزيد وينقص.
Dari Ar-Rabii’ bin Sulaimaan ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Manaaqibusy-Syaafi’iy, 1/385, tahqiq As-Sayyid Ahmad Shaqr; Maktabah Daar At-Turaats].
عن أبي داود، قال : سمعتُ أحمد بن حنبل يقول : الإيمان قول وعمل، يزيد وينقص.
Dari Abu Daawud, ia berkata : Saya mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah, 1/272; shahih].

2. Al-Qur’an adalah makhluq[2];
3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung)[3];
4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (menafikkan sifat kalaam)[4];
5. Allah tidak dilihat di Akhirat[5];
6. Allah tidak mempunyai tempat tertentu[6];
7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy[7]; bukan di atas langit ke tujuh (7). Sedangkah menurut Ahl al-Sunnah, jawapan yang tepat bagi seseorang Muslim yang apabila diajukan pertanyaan kepadanya tentang “di manakah Allah,” maka dia hendaklah menjawabnya sebagaimana zahir lafaz jawapan wanita dalam hadis Mu’awiyah al-Sulami, iaitu fis samaa’….”Allah di atas langit”.
8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat)[8];
9. Mengingkari azab qubur[9];
10. Syurga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana’ (tidak kekal).
11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya[11] dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat[12]; Ini adalah konsekuensi pengingkaran mereka terhadap sifat kalam sebagaimana telah lalu pembahasannya. Padahal telah tetap dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa Allah akan mengajak bicara orang-orang yang beriman kelak di hari kiamat.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلا النَّارَ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih” [QS. Al-Baqarah : 174].
Apabila ada segolongan kaum yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, maka mafhum-nya ada segolongan lain akan diajak bicara oleh Allah kelak di hari kiamat.
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?” [QS. Al-An’aam : 22].
ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?” Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu): “Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir” [QS. Al-Hijr : 27].
عن ‏ ‏عدي بن حاتم ‏ ‏قال : ‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم :‏ ‏ما منكم من أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان ولا حجاب يحجبه ))
Dari ‘Adiy bin Haatim ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah bersabda: “Tidaklah ada seorangpun di antara kalian kecuali ia akan diajak bicara oleh Rabb-nya. Tidak ada antara keduanya penterjemah dan penghalang yang menghalanginya” [Sahih Al-Bukhariy no. 6889].

12. Penduduk surga tidak akan melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihat-Nya di syurga[13]; Al-Imam Abul-Hasan al-Ash’ariy rahimahullah berkata :
أجمعوا على أن المؤمنين يرون الله عز وجل يوم القيامة بأعين وجوههم على ما أخبر به تعالى
“Mereka (para ulama sunnah) telah bersepakat bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah ‘azza wa jalla kelak di hari kiamat dengan mata kepala mereka berdasarkan apa yang telah dikhabarkan Allah ta’ala” [Risaalah ilaa Ahlith-Thaghr, hal. 237 – melalui perantaraan kitab Shifatullaahi ‘azza wa jalla Al-Waaridatu fil-Kitaab was-Sunnah oleh ‘Alawiy bin ‘Abdil-Qaadir As-Saqqaaf, hal. 170; Ad-Durarus-Saniyyah, Cet. 3/1426].

13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb (mengenal dengan hati, percaya dengan hati) tanpa pengikraran dengan lisan[14]; Kalau begitu iblis, fiaruan dan abu jahl dan sekalian kuffar adalah beriman!
14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa”. Menurut jahmiyyah Allah tidak berwajah, tidak bertangan, tidak tinggi di atas Arasyh. Mereka menolak hadith jariyah yang sahih yang menyatakan Allah di atas langit (yang ke 7). Mrk mengkafirkan Ahl al-Sunnah. Ini adalah inti ‘aqidah Jahmiyyah yang mengingkari seluruh sifat Allah ta’ala. hakikatnya, mereka seperti menyembah ma’dum yakni sesuatu yang tidak ada (karena tidak mempunyai sifat). Maha Suci Allah dari yang mereka katakan.

Al-Imam Abu Hatim al-Razi rahimahullah:

“Tanda-tanda Jahmiyyah adalah mereka menggelar Ahli Sunnah sebagai Musyabbihah mujassimah (menyerupakan Allah dengan makhluk ). Tanda-tanda aliran al-Qadariyyah adalah mereka menggelar Ahli Sunnah sebagai berfahaman al-Jabariyyah. Tanda-tanda al-Murji’ah adalah mereka menggelarAhli Sunnah sebagai al-Mukalifah (suka menyimpang) dan al-Nuqsaniyyah (suka mengurangi). Tanda-tanda aliran al-Rafidhah adalah mereka menggelar Ahli Sunnah sebagai al-Tsaniyyah.” [Ashl al-Sunnah wa I’tiqad al-Din;

Sejalan dengan kenyataan ini ialah Imam al-Barbahari rahimahullah dimana beliau berkata:

“Jika anda mendengar seseorang berkata: “Si fulan adalah Musyabbih atau si fulan berbicara tentang masalah tasybih” maka ketahuilah bahawa dia seorang Jahmiyyah.” [Syarhus Sunnah]

Mu’tazilah
Mu’tazilah adalah aliran yang sesat dan termasuk ahlul bid’ah, pengikut jahmiyyah , menerima Nama Allah dan nenolak sifat-sifatNYA. Mereka adalah pengikut Wasil bin ‘Atha’ dan ‘Amr bin ‘Ubaid. Digelar Mu’tazilah karena mereka mengeluarkan diri (‘itizal) dari kelompok kajian al-Hasan al-Bashri (wafat tahun 110 H) rahimahullah, atau karena mereka mengisolir diri dari pandangan sebagian besar ummat Islam ketika itu dalam hal pelaku dosa besar, karena menurut Washil bin ‘Atha’, pelaku dosa besar berada dalam status antara iman dan kafir, tidak dikatakan beriman dan tidak pula dikatakan kafir, atau disebut dengan istilah mereka: manzilah bainal manzilatain (tempat di antara dua kedudukan, tidak mukmin dan tidak kafir). Dan jika tidak bertaubat, maka ia di akhirat akan kekal dalam Neraka.[15]
Adapun menurut Ahlus Sunnah, pelaku dosa besar dari kaum Muslimin masih tetap disebut Mukmin karena imannya, hanya saja ia itu fasiq karena perbuatan dosa besarnya. Atau dikatakan ia itu Mukmin yang kurang imannya, sedang urusannya di akhirat -apabila belum bertaubat- adalah terserah Allah, jika Allah Azza wa Jalla menghendaki, akan disiksa-Nya (sesuai dengan keadilan-Nya) dan jika Dia menghendaki akan diampuni-Nya (sesuai dengan sifat kasih-Nya).[16]

dalam sifat istiwa’ Allah, ahlus Sunnah mengatakan bahawa Allah memang istiwa’ (maha tinggi) secara haqiqi di atas arasy. Inilah yang sahih
Mu’tazilah sesat mengatakan istiwa’ itu adalaah istila’ (menakluk). Ini batil. Adakah Allah tewas lalu menang dan menakluk arasy? Adakah Allah istila’ (menakluk) arasy shj?

Jahm b Sofwan

Kesesatan Jahmiyyah.
Jahm ibn Safwān (جهم بن صفوان) was an Islamic theologian who attached himself to Al-Harith ibn Surayj, a dissident in Khurasan towards the end of the Umayyad period, and who was put to death in 746 by Salim b. Ahwaz.
He was born in Kufah, but settled down in Khurasān in Tirmidh. His birthyear is unknown, but he probably was born in the first century (hijrah). He learned under al-Ja’d b. Dirham, a theologian from Harran in Syria. al-Ja’d b. Dirham was a teacher of the last Umayyad Caliph, Marwan II, and is described as a Dahrî and Zindîq.[2] He was the first Muslim who spoke about the createdness of the Qur’ân, the rejection of Abraham’s friendship to God and Moses’ speaking to Him.[3] From al-Ja’d Jahm b. Safwān inherited some doctrines and would become the founder of the Jahmiyyah (see: Jahmites).[4]
Jahm eventually took work as the assistant of Al-Harith ibn Surayj during the latter’s revolt against the Umayyad governor Nasr ibn Sayyar. During the first attempt to take Merv in 746, Jahm was killed though the revolt greatly weakened Umayyad power and indirectly contributed to the success of the Abbasid Revolution
According to Jahm ibn Safwan, only a few attributes can be predicated to God, such as creation, divine power and action whilst others such as speech cannot. Therefore, he believed that it was wrong to talk about the eternal word of the Qur’an, since God (according to Jahm) is not a speaker in the first place.[6]
Jahm had been an exponent of extreme determinism according to which a man acts only metaphorically in the same way in which the sun acts or does something when it sets.[7]
Jahm’s doctrines about God and His Attributes found a lot of adherence among the Mu’tazilah, who were named Jahmites by their adversaries. The Mu’tazilah are known because of their belief that the Qur’ān is created, a tenet wherein they agreed with Jahm. They would also were characterized by their adversaries as deniers of God’s Attributes in contradistinction of the affirmers from among the ahl al hadith, which would become Sunnites later on.
Jahm b. Safwān was heavily criticized and declared an unbeliever by the ahl al hadith, who were increasingly becoming affiliated to the Umayyad, and later on, Abbassid authorities . Early on, many scholars of Hadith wrote refutations of Jahm bin Safwan’s doctrines, particularly Ahmad ibn Hanbal, al-Bukhari, and al-Darimi.[8]

The latter also wrote a large refutation of a prominent Jahmite by the name of Bishr b. Ghiyāth al-Mārisî wherein he declared him a Kafir (an unbeliever).
Jahm left no writings, but many Muslim scholars of the past wrote about his doctrines and a few modern scholars wrote studies of him.
Pernahkah anda mendengar orang yang mengatakan bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak di mana-mana, mengingkari bahawa Allah tinggi di atas ‘Arsy, menolak semua sifat Allah (dengan nama ta’wil), mengingkari takdir, dan mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk ??

Jahmiyyah dalam Masyarakat.

Pernahkah anda mendengar orang yang mengatakan bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak di mana-mana, atau berada di mana-mana, mengingkari bahawa Allah tinggi di atas ‘Arsy, menolak semua sifat Allah (dengan nama ta’wil), mengingkari takdir, dan mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk ??

Ketahuilah itu adalah sisa-sisa fahaman sesat aliran jahmiyyah. Meskipun tokohnya Jahm bin Shafwan telah disembelih oleh Salam bin Ahwaz al-Mazini penguasa Morwu di akhir pemerintahan Bani Umaiyyah kerana bahayanya pemikiran jahmiyyah, namun pemikirannya tidak mati dan menyebar luas sampai sekarang. Banyak yang tidak sedar bahawa dirinya terpengaruh fahaman Jahmiyah yang sesat ini.

Pelampau jahmiyyah ingin membuang semua ayat istiwa’ , wajh dan yad dalam al-Quran. Oleh itu, al-Imam ‘Abdullah ibn al-Mubarak menghukum jahmiyyah sbg bukan islam, bukan sekadar kelompok islam yang sesat.

A. SEJARAH JAHMIYYAH ?

Para ulama menyebutkan bahawa Ja’d bin Dirham merupakan pencetus dan penebar embrio pertama pemikiran Jahmiyyah yang kemudian disebarluaskan oleh Jahm bin Sofwan, sehingga pemikiran tersebut dinisbahkan kepadanya. Menurut salah satu riwayat bahawa Ja’d mengambil pemikiran dari Aban bin Sam’an, dan Aban mengambil dari Thalut anak saudara perempuan Lubayd bin al-A’sam, seorang Yahudi yang pernah menyihir Nabi. Lihat al-Milal wan Nihal, (173) karya as-Shahrastani, al-Farqu baina al-Firaq, hal.194, oleh al-Baghdadi dan Thabaqah al-Hanabilah (1/32) karya Ibnu Abu Ya’la, dan Maqalaat Islamiyyin (1/312).

B. KENAPA JAHMIYYAH DIHUKUMKAN SESAT ?

Jahm bin Safwan dianggap penyebar kesesatan aliran sesat ini, kerana ia telah menghimpun tiga bid’ah sesat yang sangat buruk dan berbahaya disamping beberapa bid’ah yang lain :

Pertama : Bid’ah kesesatan Ta’thil iaitu peniadaan sifat-sifat Allah dan menyangka bahawa Allah tidak disifati dengan sebarang sifat, kerana pemberian sifat-sifat mengakibatkan penyerupaan dengan makhluk-Nya. Lihat : Ar-Radd ‘alaa Jahmiyyah, hal.17 karya Imam ad-Darimi, dan Majmuu’ Fataawaa (5/20). Ahli ta’wil yg mendakwa diri mendakwa diri mrk ahl sunnah mengikuti kesesatan ini lalu menta’til dan tahrif beberapa sifat Allah yang zatiyyah dan fi’liyyah.

Kedua : Bid’ah Jabr iaitu pernyataan bahawa menusia tidak mempunyai kemampuan dan daya upaya sama sekali bahkan semua kehendaknya muncul dalam keadaan dipaksa oleh kehendak Allah, maka ia menganggap perbuatan manusia dinisbahkan kepadanya hanya sekadar majaz (metafora). Maqalaat Islamiyyin oleh al-Asy’ari (1/312). Ini diikuti golongan keliru dan bid’ah dari ahli kalam yang menisbahkan diri mrk kpd sunnah dengan lafaz kasb yakni perbuatan hamba hanyalah majaz krn haqiqat pembuat adalah Allah.

Ketiga: Bid’ah kesesatan Irja’ bahawa iman cukup hanya dengan ma’rifat (mengenal) atau tasdiq (percaya dalam hati), amal tidak termasuk dalam iman. Sesiapa yang inkar di lisan maka hal tersebut tidak membuatnya kafir sebab ilmu dan ma’rifat tidak lenyap kerana ingkar, dan keimanan tidak berkurang dan semua hamba setara dalam keimanannya serta iman dan kufur hanya dalam hati tidak dalam perbuatan. Maqalaat Islamiyyin (1/312)]. Di sisi murji’ah, tiada syirik, tiada bid’ah dan tiada nifaq. Amal dan sunnah bukan termasuk iman. Ini termasuk sebesar2 bahaya dan kesesatan yang membuatkan seseorang terkeluar dari aqidah ahl al-sunnah, mjd sesat dan kafir.

Dalam Islam dan sunnah, iman ialah haqiqah murakkabah iaitu gabungan aqidah, amal, qawl dengan lisan dan mengikuti sunnah. Ini sabit alam al-Quran , al-Hadith dan Ijma’. menyalahahinya adalah kesesatan dan kekufuran.

Post Navigation